You are on page 1of 28

Hematologi

Dasar Teori
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk

hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Tanpa darah yang cukup, manusia akan mengalami gangguan kesehatan dan bahkan kematian. Komposisi darah pada manusia adalah 55% cairan darah (plasma dara) dan sisanya adalah sel-sel darah (darah padat) yang secara keseluruhan pada orang dewasa sebanyak 4-5 liter. Plasma darah tersusun atas 90 % air, 7-8 % protein ( albumin, globulin ), 1 % elektrolit dab sisanya 1-2% berbagai zat makanan, seperti glukosa, asam amino, lipid dan vitamin, intermediet metaboliy seperti piruvat dan laktat, limbah nitrogen seperti urea, asam urat dan gas-gas seperti CO2 dan O2., garam-garam mineral serta hormon.

Sel-sel darah dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%). Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%) Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Sel darah putih atau leukosit (0,2%) Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia. Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui kelainan dari kuantitas dan kualitas sel darah dan menguji perubahan yang terjadi pada plasma yang terutama berperan pada proses pembekuan darah. Pemeriksaan pada sel darah meliputi kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit, laju endap darah ( LED ), jumlah leukosit, jumlah trombosit, hitung jenis sel darah putih, Rumpel Leede ( RL ), waktu pendarahan ( Bleeding Time = BT ), dan waktu pembekuan ( Clotting Time = CT ). Pemeriksaan hematologi dapat dilakukan secara manual yang memakan waktu cukup lama, tidak menunjukkan ketelitian dan ketepatan yang baik. Akhir-akhir ini dengan perkembangan teknologi, jumlah sel darah dapat dihitung dengan alat otomatis yang disebut sebagai blood cell counter

Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui cara menentukan kadar

hemoglobin (Hb) dalam darah dengan metode Sahli. Untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah denhan menggunakan metode mikro hematokrit. Untuk mengetahui kecepatan laju endap darah dengan menggunakan metode Westergren dan metode Wintrobe. Untuk menghitung jumlah sel darah putih (leukosit) dengan menggunakan metode mikroskopis/cara kamar hitung/ hemositometer/ manual. Untuk mengukur lama waktu pendarahan dengan

Proses Pengerjaan
Pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode Sahli a) Alat dan Bahan Alat : Gelas dengan warna standar ( coklat ) Tabung hemometer berskala ( g% atau g/dl ) Pipet Sahli ( pipet kapiler dengan volume 20 cmm ) Pengaduk dari gelas Pipet Pasteur HCl 0,1 N Spesimen : Darah vena + antikoagulan (EDTA) Darah kapiler
I.

II. Pemeriksaan hematokrit (Hct) dengan metode mikro hematokrit Alat :Tabung kapiler, panjang 7 cm, dan diameter 1 mm. Bila yang digunakan darah antikoagulan, maka ke dalamnnya tidak perlu disikan antikoagulan; tetapi bila menggunakan darah kapiler, maka ke dalam tabung harus dimasukkan sejumlah tertentu antikoagulan heparin ( melapisi bagian dalam tabung ). Malam Sentrifus mikro dengan kecepatan 11.500-15.000 rpm Pembaca mikrohematokrit
Spesimen : Darah vena dan antikoagulan EDTA, heparin atau

amonium potasium oksalat Darah kapiler

III. Pemeriksaan laju endap darah (LED) dengan metode westergren dan metode wintrobe Metode westergren Alat : Tabung westergren yang telah dikalibrasi dalam mm Rak tabung westergren NaCl spesimen : Darah vena + Na sitrat 3,8% ( darah : Na-sitrat = 4 : 1 ) Darah vena + EDTA ( 1 mg/ml darah ) + NaCl ( 4 : 1 )

Metode wintrobe Alat : Tabung wintrobe yang terkalibrasi dalam mm Rak pipet wintrobe Pipet

Spesimen : Darah vena + antikoagulan EDTA atau Double oxalate

Pemeriksaan jumlah sel darah putih ( leukosit ) dengan metode

mikroskopis/ cara kamar hitung/manual Alat : Pipet leukosit dan aspirator ( thoma white cell pipet ) Hemositometer neubauer + gelas penutup Mikroskop Larutan turk ( larutan pengencer ) terdiri dari Asam asetat glasial 3 mL Gentian violet cair 1% Aquades ad 100 mL Spesimen : Darah vena + antikoagulan (EDTA,heparin, atau ammonium potasium oksalat) Darah kapiler

Pemeriksaan waktu pendarahan ( Bleeding Time

= BT ) dengan metode duke Alat : Kapas dan alkohol 70% Blood lancet Kertas saring stopwatch Spesimen : Darah pada cuping telinga

Cara Kerja

Pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode Sahli, yaitu :

Tabung hemometer diisi HCl 0,1 N sampai tanda 2 g


% Hisap darah kapiler / darah vena ( + antikoagulan ) ke dalam pipet sahli sampai tanda 20 cmm Bagian luar pipet bersihkam dengan kapas kering / tissue Tiup hati-hati darah ke dalam larutan HCl, jangan sampai ada gelembung Sebelum dikeluarkan, bilas dulu dengan cara menghisap dan meniup HCl dalam tabung ke pipet beberapa kali Tunggu 10 menit ( terbentuknya asam hematin yang sempurna ) Encerkan asam hematin dengan aquades tetes demi tetes sambil diaduk dan bandingkan dengan warna

Pemeriksaan hematokrit (Hct) dengan metode mikro hematokrit, yaitu: Darah kapiler atau darah vena + antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung kapiler sampai kira-kira 2/3 bagian ( hindarkan masuknya gelembung udara, karena akan memberikan hasi yang salah). Tutup mulut salah satu ujung tabung dengan malam Letakakn ke 2 tabung hematokrit dalam piringan sentrifus tepat berseberangan dengan posisi ujung yang ditutup malam ke arah luar dan ujung yang terbuka ke arah pusat sentrifus. Pusingkan selama 5 menit Segera setelah sentrifus berhenti, ambil tabung dan segera baca dengan alat pembaca hematokrit

Pemeriksaan laju endap darah (LED) dengan metode westergren dan metode wintrobe, yaitu :

Metode westergren Kocok darah + antikoagulan (EDTA) kira-kira 2 menit 0,5 cc NaCl 0,85% tabung reaksi 13 x 100 mm + 2 cc darah kocok kira-kira 2 menit Tempatkan tabung westergren pada raknya dengan benar ( tepat tegak lurus, dasar pada cekungannya ) Isi dengan campuran darah sampai tanda 0 Yakinkan tidak ada udara yang ikut masuk ke dalam pipet Biarkan pipet selama 60 menit Baca tingginya endapan

Metode wintrobe

Campur darah + antikoagulan

kocok 2

menit Isikan ke tabung wintrobe dengan memakai pipet Letakakan pada rak wintrobe, posisi tepat tegak lurus Baca setelah 60 menit

Pemeriksaan jumlah sel darah putih ( leukosit ) dengan metode mikroskopis/ cara kamar hitung/manual, yaitu : o Cairan darah

Kocok spesimen darah kira-kira 1 menit. Memakai aspirator dan

pipet leko, hisap darah sampai tanda 0,5 ( pada pipet ) atau sedikit diatasnya ( tidak boleh terlalu tinggi, karena hasil berbeda ) Dengan kain bersih, hapus permukaan laur pipet dan bila darah di atas tanda 0,5; pakai bahan non absorben pada ujung pipet, turunkan darah sampai tepat 0,5 ( kalau digunakan bahan absorben, maka yang terhisap adalah cairannya saja sehingga akan diperoleh hemokonsentrasi ( kadar sel lebih tinggi ) Letakan pipet harus vertikel, letakkan ujung pipet pada cairan pelarut sel darah putih, hisap pelan-pelan sampai tanda 11 ( bila saat dihisap level darah < 0,5 harus diulang memakai cairan pelarut yang baru, bila tidak vertikel, ditakutkan ada gelembung udara yang ikut masuk pipet. Karena bentuk pipetnya : darah dibagi dalam 2 bagian, yaitu : 1 unit pada bagian tabung pipet, 10 unit ada di gelembungnya. Jadi saat darah dihisap dengan volume 0,5 unit, ditambah cairan pelarut sampai tanda 11, darah yang ada di gelembung yaitu 0,5 unit + 9,5 unit pelarut ( yang ada pada tabung bawah hanya cairan pelarutnya) pengenceran darah adalah 0,5 unit : 10 unit ( 1 : 20 ) Ulangi specimen 2x dengan cara yang sama

Bersihkan gelas hitung ( bisa dengan koholal 90% ) Kocok larutan kira-kira 3 menit adar SDM terhemolise semua (

mengocok bisa dengan alat kocok atau dengan cara manual. Cara mengisi tabung hitung Pegang pipet dalam posisi vertikel, jari telunjuk kanan menutup puncak pipet, buang 4 tetes campuran Hilangkan adanya cairan yang mungkin menempel di luar pipet Dengan jari telunjuk kanan untuk mengontrol kecepatan aliran, letakkan ujung pipet pada tepi kamar hitung dan biarkan cairan mengalir dibawah gelas penutup pelan-pelan sampai memenuhi kamar hitung ( pipet ditarik sesaat sebelum kamar hitung tampak penuh ). Hati-hati gelas penutup jangan sampai bergeser, pemeriksaan prosedur 4 a, b, dan c harus cepat dilakukan supaya sel darah putih pada campuran tidak sampai mengendap. Bila pengisian kamar hitung tidak sempurna, ulangi prosedur. Isi bagian yang berlawanan dari kamar hitung dengan larutan yang ke dua Beri waktu 1 menit di dalam kamar hitung sebelum diperiksa agar sel darah putih mengendap

o Cara mengitung sel darah putih

Hati-hati, posisi kamar hitung harus selalu

horizontal mikroskop Perbesaran 10 x obyektif, yakinkan bahwa preparat tampak jelas. Dengan fokus tertentu, sel darah putih tampak seperti titik hitam atau kecil gelap Lihat pada 4 bagian kamar hitung pada kode W, untuk memastikan hasil yang akurat, pada ke 4 kolom tersebut harus mempunyai jumlah sel yang tidak berbeda jauh, tidak lebih dari 10.

Cara Kamar Hitung Mulai hitung dari bidang kiri atas, hitung semua sel

darah putih pada ke 4 bagian, jumlahkan hasilnya, sehingga didapatkan hasil total ke 4 bidang. Untuk menghitung sel yang menempel pada tepi kiri dan atas saja. Hitung juga dari tepi yang berlawanan hasil harus sama / tidak jauh berbeda. Bila jauh berbeda, ulangi prosedur. Bila ada sel yang menempel pada garis batas, maka sel yang dihitung hanya sel yang berada di kiri dan atas, sedangkan yang kanan dan bawah tik usah dihitung ( atau boleh juga sebalikknya, yang dihitung hanya yang kanan bawah, sedangkan kiri atas tidak

Cara menghitung sel darah putih

Jumlah sel darah putih x koreksi isi x koreksi

pelarut Misalnya : jumlah sel darah putih yang terhitung dari ke 4 bidang sebanyak 100 sel, volume sel darah putih yang terhitung untuk setiap bidang yaitu ( 1 x 0,3 ) 1, jadi 4 bidang = 4 1 untuk mendapatkan 1 1 harus dikalikan 2,5. Jadi faktor koreksi utnuk volume adalah 2,5. Karena darah dilarutkan pada perbandingan 1 : 20, berarti faktor koreksi untuk pelarut = 20. Jadi jumlah sel darah putih = 100 x 2,5 x 20 = 4.000 sel / 1. Hitung sebelah yang berlawanan seperti cara di

Pemeriksaan waktu pendarahan ( Bleeding Time = BT ) dengan metode duke, yaitu : Desinfeksi daerah kuping dengan alkohol 70% Pegang cuping telinga di antara ibu jari dan telunjuk sehingga tampak penegangan pada kulit Buat tusukan dengan disposable lancet ( luka standar dengan kedalaman 3-4 mm), begitu darah keluar stopwatch dijalankan Lepaskan tekanan dan biarkan darah mengalir dengan sendirinya 30 detik kemudian dan setiap 30 detik berikutnya tetesan darah yang keluar dihisap dengan kertas saring tanpa menyentuh luka Bila darah tetesan sudah berhenti ( tampak hanya satu titik ) pada kertas saring, stopwatch dihentikan dan catat waktunya. Waktu pendarahan dapat dihitung dengan mengalihkan jumlah bercak darah di kertas saring dengan 3 detik.

Hasil Pengamatan
Pemeriksaan kadar hemoglobin dalam sampel darah

mahasiswa dengan metode Sahli di peroleh hasil, yaitu g/dl Pemeriksaan hematokrit dalam sampel darah mahasiswa dengan metode mikro hematokrit diperoleh hasil, yaitu % Pemeriksaan laju endap darah (LED) dalam sampel darah mahasiswa diperoleh hasil, yaitu:
Dengan metode westergren : 22 mm/jam Dengan metode wintrobe :

Angka terbaca bagian bawah = mm/ jam Angka terbaca bagian atas = mm/jam Sehingga, Laju endap darah = + = mm/jam

Pemeriksaan jumlah sel darah putih ( leukosit ) dalam sampel darah mahasiswa dengan metode mikroskopis/ cara kamar hitung/manual diperoleh hasil, yaitu : W1 = 39 W2 = 42 W3= 39 W4= 34 Wtotal = 154 maka Jumlah sel darah putih ( leukosit) = 1/0,4 x 20 x 154 = 7700 spd/mL

Pemeriksaan waktu pendarahan ( Bleeding Time = BT ) dalam sampel darah mahasiswa diperoleh hasil, yaitu : Jumlah noda darah pada kertas saring = Sehingga, Waktu pendarahan = 7 x 30 detik

= 210 detik = 3,5 menit

Pembahasan
Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan

yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paruparu. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan. Hemoglobin yang meningkat terjadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dehidrasi yang menurun dipengaruhi oleh berbagai masalah klinis. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin tidak selalu meningkat atau menurun bersamaan, sebagai contoh ; penurunan jumlah sel darah merah disertai kadar hemoglobin yang sedikit meningkat atau normal terjadi pada kasus anemia pernisiosa serta kadar sel darah merah yang sedikit meningkat atau normal disertai dengan kadar hemoglobin yang menurun terjadi pada anemia difisiensi zat besi (mikrositik).

Pemeriksaan hematokrit merupakan persentase

volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Darah dengan antikogulan isotonic dalam tabung dipusing selama 5 menit dengan kecepatan 12.000 rpm sehingga eritrosit sehingga eritrosit dipadatkan membuat kolom dibagian bawah dan tabung tingginya kolom mencerminkan nilai hematokrit. Intinya Darah

Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap

yaitu tahap pembentukan rouleaux, tahap pengendapan dan tahap pemadatan. Di laboratorium cara untuk memeriksa Laju Endap Darah (LED) yang sering dipakai adalah cara Wintrobe dan cara Weetergren. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan Laju Endap Darah (LED) cepat.

Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan secara spesifik kejadian dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi. Tipe leukosit yang dihitung ada 5 yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Salah satu jenis leukosit yang cukup besar, yaitu 2x besarnya eritrosit (sel darah merah), dan mampu bergerak aktif dalam pembuluh darah maupun di luar pembuluh darah. Neutrofil paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut. Peningkatan jumlah leukosit (diatas normal) dikenal dengan istilah Leukositosis, Leukositosis adalah respon normal terhadap infeksi atau peradangan pada tubuh. Keadaan ini dapat juga dijumpai setelah gangguan emosi, anestesi, olahraga atau selama kehamilan. Leukositosis abnormal dijumpai pada keganasan dan gangguan sumsum tulang. Penurunan jumlah leukosit (dibawah normal) dikenal dengan istilah Leukopeni. Leukopeni dapat disebabkan beberapa hal, termasuk stress berkepanjangan, penyakit tertentu, kekurangan sumsum tulang, radiasi dan kemoterapi. Penyakit sistemik yang parah Lupus eritematosus, leukemia, penyakit tiroid, juga dapat menyebabkan

Pada percobaan menghitung waktu pendarahan

(Bleeding Time = BT) menggunakan stopwatch. Dan menggunakan sampel darah yang di ambil pada cuping telinga yang dilukai dengan menggunakan blood lancet. Waktu perdarahan normal untuk metode duke adalah 1-3 menit dari waktu menusuk sampai semua pendarahan dari luka berhenti. Masa perdarahan tergantung atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi kapiler, dan trombosit. Pembuluh darah merupakan penghalang pertama dalam kehilangan darah. jika sebuah pembuluh darah mengalami cedera, maka pembuluh darah akan mengkerut sehingga aliran darah keluar menjadi lebih lambat dan proses pembekuan bisa dimulai. Pada saat yang sama, kumpulan darah diluar pembuluh darah (hematom) akan menekan pembuluh darah dan membantu mencegah perdarahan lebih lanjut

Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan hematologi yang kami

lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : Kadar hemoglobin dari sampel darah mahasiswi yang diperiksa dengan metode sahli adalah tidak normal karena berada dibawah nilai normal kadar hemoglobin, yaitu g/dl. Pada pemeriksaan hemotokrit dengan metode mikro hemotokrit diperoleh hasil yang tidak normal pula sebab berada dibawah nilai normal hemotokrit, yaitu 20%. Hal ini dapat dikatakan pasien menderita penyakit anemia. Pemeriksaan laju endap darah dengan metode westergren dan metode wintrobe diperoleh hasil normal karena masih masuk dalam rentang nilai normal laju endap darah, yaitu mm/jam dan mm/jam. Pada perhitungan jumlah sel darah merah, diperoleh hasil yang normal pula, sebab jumlah sel darah putih yang diperoleh adalah /mL. Pengamatan waktu pendarahan (Bleeding Time = BT ) di peroleh hasil yang masih dapat dikatakan normal, sebab hasil intrepetasinya masih mendekati rentang nilai normal waktu pendarahan, yaitu menit.